Ribuan warga memadati kawasan Pecinan di sepanjang Jalan Sulawesi, Makassar, Sulawesi Selatan, untuk menyaksikan perayaan menyambut Cap Go Meh, Ahad (5/2). Cap Gomeh akan jatuh pada Senin esok atau 15 hari setelah perayaan Tahun Baru Imlek.
Warga sudah memadati kawasan Pecinan sejak pagi. Sementara para peserta karnaval pun sudah menghiasi diri mereka dengan aneka macam pernak-pernik berbau budaya China. Yang paling dinanti warga adalah karnaval patung dewa yang diikuti oleh puluhan kelompok warga keturunan Tionghoa. Selain karnaval patung dewa, Karnaval Cap Go Meh juga dimeriahkan khas Tahun Baru Imlek, yakni barongsai dan liong.
Tak hanya budaya China yang ditampilkan. Sejumlah kelompok budaya tradisional dari daerah lain di Indonesia juga ikut memeriahkan Karnaval Cap Go Meh di Makassar ini, seperti dari Makassar, bahkan dari Bali. Bukan hanya warga Tionghoa, seluruh etnis di Makassar juga ikut terlibat.
Perayaan Cap Go Meh, bagi warga keturunan Tionghoa baik dari kelompok Hakka maupun Hokkian dianggap sebagai sebuah ritual perayaan keagamaan dengan sembahyang di kelenteng maupun vihara. Sejatinya perayaan Cap Go Meh bukan hanya sebatas peribadatan, melainkan aktivitas di luar ruang (outdoor) yang diisi dengan berbagai kegiatan dengan tujuan menjalin silaturahmi antara sesama.
Pada saat Cap Go Meh, orang Tionghoa utamanya penganut Tao dan Buddha meyakini turunnya dewa Sang Yan, yang diyakini mereka sebagai dewa pembawa rezeki. Didasarkan kepercayaan nenek moyang mereka di China, Tahun Baru Imlek merupakan waktu untuk menikmati hasil kerja keras selama setahun penanggalan dengan sistem bulan itu dan berakhir menjelang perayaan Cap Go Meh.(DSY)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar